Sosok

Prof. Dr.Ing. Dr. Sc.h.c. Bacharuddin Jusuf Habibie

2010-03-05

Sosok Manusia Multidimensional


Mantan Presiden RI Ketiga, Si Jenius ilmuwan konstruksi pesawat terbang, ini selalu menjadi berita hangat . Pada masa emas kejayaan dengan segudang jabatan diemban, dialah manusia paling multidimensional di Indonesia. Ia manusia cerdas ajaib yang sempat menghadirkan selaksa harapan kemajuan teknologi demi kejayaan negeri ini.

Agak aneh, memang, anak bangsa yang satu ini. Dia hanya setahun kuliah di ITB Bandung, 10 tahun kuliah hingga meraih gelar doktor konstruksi pesawat terbang di Jerman dengan predikat Summa Cum laude. Lalu bekerja di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman, sebelum memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia.

Di Indonesia dia 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI, dan disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi Presiden RI menggantikan Presiden RI ke-2 Soeharto
Selengkapnya..

  • Edisi Cetak Terbaru


Kolom

Pelajaran dari Hasil Pemilihan Presiden 2009

2009-10-05

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari hasil pilihan rakyat tangal 8 Juli yang lalu (versi Quick Count)/ Diatas kertas banyak yang menduga pasangan SBY- Boediono akan menang tetapi tidak sebesar hasil quick count. Diatas kertas para pengamat dan penampilan di berbagai tempat JK- Win akan mendapat minimal peringkat kedua apalagi yang bersangkutan didukung oleh suara mereka yang dinilai pemimpin muslim termasukkyai pengasuh pondok pesantren, NU, Muhamadiyah, Alwashliyah, ittihadiyah, ICMI, FPI, Forum ummat Islam, PKPNU, sempalan PKS, PAN, PBB, bahkan dari kelompok China dan lain sebagainya. Tetapi kenyataannya hasil quick count (yang diperkirakan tidak akan jauh berbeda dari real quick count nanti) adalah sekitar 26%: 61%: 13% antara Megawati- Prabowo: SBY- Boediono: JK- Wiranto.

Terlepas dari tuduhan dari sementara pihak seolah- olah hasil sudah diatur sistemik serta tuduhan bahwa terjadi banyak pelangaran dalam proses pemilihan ini kita akan menjadikan hasil quick count itu sebagai pelajaran dan dasar analisa. kenapa hasilnya demikian? ada beberapa alasan yang mungkin dapat menjawabnya.

(1). Hubungan antara dana kampanye dan hasil suara. Kendatipun belum diteliti secara mendalam namun menurut pengamatan dan pengalaman di Luar Negari ada korelasi positif antara jumlah dana yang dikucurkan untuk pemilu dengan jumlah suara pemilu. Dalam dunia yang serba canggih ini dengan teknologi yang modern maka "swing voter" yang jumlahnya sangat besar dalam pilpres ini banyak tergantung pada media promosi atau iklan (audio visual, cetak, kaus, emblem, dll). Promosi da iklan bisa menggiring voters untuk memilih dengan berbagai cara, trik, teknik, pidato, janji, show of force dan sebagainya. untuk membuat media yang menarik dan efektif maka uanglah faktornya.

Uang bukan saja laku untuk bayar iklan dan bentuk promosi lainnya tetapi juga bisa berbentuk sumbangan, bantuan, baik langsung atau melalui objek tertentu lainnya. Apakah ini disebut sebagai money politics atau tidak bukan wewenang tulisan ini. Dana kampanye yag dimaksud disini bukanlah dana kampanye yang dilaporkan saja ke KPU tetapi semua dana yang digunakan untuk kegiatan kampanye sejak dahulu sampai sekarang, bukan saja untuk promosi langsung tetapi juga untuk yang tidak langsung. Dari fakta yang kita lihat amati dan laporan ICW yang paling besar dana kampanyenya adalah pemenang pilpres itu atau SBY- Boediono. Selengkapnya.. dapat dilihat di MES edisi Oktober 2009...